Tuntaskan Rindumu

Matahari sore ini sudah mulai tenggelam, cahayanya semakin redup sehingga benda yang berada di depan terlihat samar, tak begitu nampak seakan hanya bayang semu. 

Seorang nenek yang sudah mulai rentah terlihat dari balik pintu sedang terbaring lemah diatas tempat tidur, posisinya telentang berbalut sarung bercorak batik kehitaman. Ditangan kanannya terjuntai selang infus yang bermuara pada sebuah jarum yang tertusuk dilengannya.  Wajahnya nampak begitu pucat dengan bibir kering terkelupas. 

Dia tersenyum seakan memberikan sebuah isyarat, bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan semuanya baik-baik saja. Meskipun kami tau jika iya sedang menyembunyikan sakit yang di deritanya. Sesekali menghela nafas panjang agar sakitnya tak menyumbal.

Beliau sangat pandai menyimpan luka,  sangat tegar agar tak terlihat lemah. Itulah naluri seorang ibu. Sehingga wajar jika surga itu sengaja diletakkan oleh Sang  Pencipta dibawah telapak kakinya. 

Mungkin bukan hanya rasa sakit yang dideritanya saat ini, mungkin saja dia juga menaruh rindu yang begitu mendalam, menguras tubuh dan pikirannya hingga harus terbaring lemah seperti ini.

Mungkin berharap agar suasana rumah kembali riuh dengan canda dan tawa anak-anaknya yang kini jauh keperantauan sana.

Mungkin saja di usianya yang sudah rentah, dia ingin merasakan kasih sayang dan buaian seorang anak, sebagaimana iya ingin mengulang cerita lalu yang dibangun olehnya. Meskipun dalam kondisi yang terbalik, giliran anak yang memanjakan ibunya.

Jika saja hari ini anak-anaknya datang. Mungkin keadaannya akan berbeda, kondisinya akan jauh lebih membaik.

Teringat kata-kata Prof. Dr. Uman Suherman.  " Ketika saya sudah dipanggil oleh ibu dan bapak maka tidak ada yang boleh menolak panggilan siapapun termasuk atasan saya. Ada dua panggilan yang tidak mungkin saya tolak, pertama panggilan Tuhan, kedua, panggilan orangtua saya. Jabatan, harta dan apapun itu tidak akan ada gunanya jika yang memanggil adalah kedua orangtua."

Semoga kita semua bisa belajar dari Prof. bahwa tak ada yang lebih penting dari orangtua, apalagi jika dia dalam keadaan sakit.

Pulanglah, tuntaskan rindunya.

Itu saja!

0 Response to "Tuntaskan Rindumu"

Posting Komentar